oh, betapa kematian makin akrab

 

oh, betapa kematian makin akrab. daun layu tumbuh di mata, musim salju tiba di bibir penuh dusta.

oh, betapa kematian makin akrab. senja kian dekat, dan gelap enggan melambat.

oh, betapa kematian makin akrab. suara-suara maut sahut-menyahut, isyarat sang pencabut segera menjemput.

oh, betapa kematian makin akrab. gigil-gigil gagal diselimuti, mimpi-mimpi tak mampu diselamati.

oh, betapa kematian makin akrab. kian sunyi kian berbunyi, kematian tak lagi bersembunyi.

 

2013

Advertisements

apalah arti kau, aku, dan kita, kini?

apalah arti kau kini? hanya berdiam diri ketika kekayaanmu kian hari kian terkikis, dicuri oleh kawanan laknat yang tak tahu diri. mereka tak layak lagi disebut pencuri. perampok, barangkali.

sementara para pemangku hukum malah turut serta berkomplot dengan mereka, lantas apa yang akan tersisa pada kau, nanti? apa yang hendak kau wariskan kelak pada anak cucu bila tiada lagi yang masih layak?

cih! rasanya ingin kupenggal leher mereka yang laknat itu, mereka yang dengan sadar berkhianat hanya demi gemerlap yang hanya sesaat.

tetapi, apalah arti aku kini? hanya mampu memaki serta mengutuk gelap negeri sendiri, membiarkan kawanan pencuri, maaf, perampok itu membawa lari kekayaan alam negeri. aku hanyalah seorang buruh aksara yang sedang berselimut lara. benar. duka dan lara dari negeri yang kaya sekaligus sengsara. aku tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menulis saja. menulis puisi ini,  misalnya. menulis, dengan harapan, bahwa ada yang membaca tulisanku ini lalu tergerak hatinya untuk melakukan perubahan. melakukan tindakan untuk menyelamatkan tanah yang telah melahirkan aku dulu.

aku yakin, di luar sana, ada orang yang tengah bergerak, meski tak banyak. tapi, sesuatu yang besar dimulai dari yang kecil, bukan? mari bergerak, kawan! perjuangkan apa yang selayaknya diperjuangkan. dengan keringat, atau barangkali dengan darah sekalipun.

sebab, jika tiada satupun yang sedang diperjuangkan, lantas, apalah arti kita di dunia ini?

 

Agustus, 2013.